Akan ke mana Kita Esok Hari?

Mungkin aku bukanlah seorang pemerhati sepak bola yang experts, mungkin juga aku bukanlah seorang suporter yang memiliki militansi sebesar kalian. Tapi, aku berani bersumpah bahwa kecintaanku terhadap sepak bola begitu besar. Aku memandang sepak bola dari sudut yang lain, yang lebih universal, bukan sekadar klub mana yang didukung, kelompok mana yang aku ikuti, dan lain sebagainya. Aku memandang sepak bola sebagai sebuah olahraga tim yang mampu membuat para penggemarnya merasakan nuansa kolektif yang dialami para pemain di lapangan. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika sepak bola kita sebut sebagai alat pemersatu.

Lihat saja, ratusan hingga ribuan orang berkumpul di tempat yang sama, dari latar belakang sosial yang berbeda-beda, mereka bersatu dan bersama, tanpa paksaan. Bernyanyi, meloncat dan menari, siang, malam, panas atau pun hujan, mereka tetap ada di sana. Dari pelosok desa hingga sudut-sudut kota yang mewah dan kumuh, mereka melupakan apa pun yang ada di belakang untuk bersatu.

Seharusnya sepak bola seperti itu, menjadi alat pemersatu yang bisa kita gunakan untuk memperbaiki berbagai perpecahan di dalam masyarakat kita ini. Tak peduli dari mana kau berasal, agama, ras, gender, kau akan menjadi satu di atas nama sepak bola.

Seharusnya sepak bola seperti itu.

Tapi, kawan, kenyataan terkadang menipu. Mimpi-mimpi kita tidaklah selalu berjalan dengan baik setelah kita terjaga. Semua bisa kapan saja hancur. Begitu pun dengan sepak bola. Industrialisasi yang membabi buta, akhirnya, menikam makna sepak bola yang sederhana. Dewasa ini, sepak bola bukan lagi perihal gairah, melainkan profit dan penindasan. Tak terhitung berapa banyak orang-orang yang kehilangan nyawanya dalam proyek pembangunan setiap stadion-stadion besar yang menjadi simbol kemajuan sebuah klub atau negara yang mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia. Ada pun dari mereka yang dibayar dengan upah di bawah rata-rata. Penindasan ini tidaklah terjadi secara diam-diam, ini terjadi secara terang-terangan! Berbagai perusahan besar seperti Nike dan Adidas secara tidak langsung berpartisipasi dalam perbudakan dengan mendukung turnamen tertentu, mungkin mereka lupa betapa mahalnya sepatu yang mereka jual sementara para buruh yang bekerja di bawah telunjuk mereka tetap berada di dalam lubang kemiskinan.

Kita bicara soal profit, ah, apa yang bisa kita bicarakan untuk kasus ini? Perputaran uang yang luar biasa di dalam industri sepak bola sudah menjadi rahasia umum. Contoh paling kecil adalah, tiket. Ya, harga tiket yang tak lagi bersahabat. Sepak bola, olahraga rakyat yang makin hari makin sulit di nikmati oleh rakyat secara langsung. Hey, tunggu, mungkin mereka masih mampu membeli tiket yang mahal itu, tapi apa? Masih banyak dari mereka yang gagal masuk stadion kala hari pertandingan datang, meski pun mereka memiliki tiket. Alasannya? Tribun penuh, blah blah blah. Bagaimana bisa tribun penuh sementara masih banyak orang yang mengantri dengan tiket di tangan mereka? Monopoli, itu jawaban sederhananya.

Klub-klub tak lagi peduli dengan berbagai masalah ini, yang mereka pedulikan hanyalah meraup profit setinggi-tingginya lewat tiket, sponsor, hingga rating televisi. Untuk menjaga stabilitas financial, klub-klub ini terus bersaing untuk menjadi nomor satu di Liga, dan di pasar tentunya. Maka sesungguhnya, kawan-kawan, klub-klub di dalam sepak bola industri ini tidaklah terlalu peduli dengan sepak bola itu sendiri. Mereka tak begitu peduli dengan setiap perjuangan para suporter yang hadir dan mendukung mereka dengan tulus dan tanpa berharap akan imbalan, yang penting para suporter ini membeli tiket, tidak membeli jersey palsu, dan berperilaku baik di tribun agar klub tidak mendapatkan sanksi. Ironi.

Tapi aku sedikit pesimis, kawan-kawan, jika melihat pergerakan suporter itu sendiri yang kini semakin terpecah-belah, bahkan mereka yang mendukung satu klub yang sama, ada sekat-sekat yang mereka ciptakan sendiri untuk saling mengklaim mengenai bagaimana seharusnya suporter sepak bola mendukung klubnya menurut mereka masing-masing. Para suporter ini seakan-akan berada dalam eksistensial krisis, di mana mereka seakan kebingungan dengan siapa dirinya dan akan ke mana/melakukan apa untuk meraih tujuan mereka, karena mereka terus beradu ambisi satu sama lain tanpa membuat satu perubahan yang menyeluruh. Mereka terpecah belah, kawan-kawan. Meski berbagai isu damai atau persatuan semakin meninggi, nyatanya, sekat-sekat itu masih ada. Mereka masih memelihara gengsi untuk menunjukan siapa yang terbaik. Itu adalah omong kosong, kawan-kawan, omong kosong.

Kesadaran suporter pun haruslah diutamakan. Sudah saatnya para suporter ini saling mengedukasi, agar ketidaktahuan dan apatisme lenyap. Bukankah terlihat aneh jika para suporter ini bergerak hanya kala klub yang didukungnya mengalami hasil-hasil yang buruk? Bukankah lebih baik jika, tak peduli apa pun hasil akhirnya, suporter ini tetap memiliki pemikiran yang kritis? Karena, yang kulihat adalah, kebanyakan dari mereka hanya marah dan kritis di kala klubnya kalah, selain itu, jika klubnya bermain bagus dan menang, semua kritikan hingga cacian hilang begitu saja. Tak peduli cara apa yang dilakukan klub untuk meraih kemenangan tersebut. ini adalah ironi yang lainnya.

Sepak bola bukanlah melulu perihal menang dan juara, sepak bola lebih dari itu. Meski pun klub profesional di dalam Liga atau turnamen resmi haruslah bermain baik dan menargetkan diri sebagai juara agar tak masuk jurang degradasi, seharusnya kalian tetap kritis dengan target atau tujuan tersebut. Bagaimana jika klub yang kalian dukung ini meng-halal-kan segala cara untuk menang dan juara? Apakah kalian akan tetap senang? Tetap bersorak kegirangan sementara klub lain harus dirugikan? Sepak bola tak seharusnya menjadikan kalian egois, sepak bola bukan perihal klub yang kalian dukung saja.

Terakhir, tak akan ada yang berubah di dalam sebuah klub jika tidak ada perubahan dari suporter. Saat ini, kita harus mulai mengakui bahwa kita seringkali melakukan hal yang buruk terhadap satu sama lain. Mari lenyapkan gengsi masing-masing dan merenung mengenai kondisi sepak bola dewasa ini yang semakin sekarat karena kita yang seringkali tidak peka terhadap berbagai masalah yang menggerogoti autentisitas sepak bola itu sendiri. Mari bersama merebut keindahan sepak bola yang sederhana yang kini telah dikuasi oleh tangan-tangan licik kapitalis. Hancurkan sekat yang ada. Jika kita tidak bersama, maka perubahan sebesar apa pun tak akan bertahan lama. Jika kita tetap seperti itu, maka bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sepak bola.

Ditulis oleh: @BobotohMelawan

Iklan